Bila dibandingkan dengan pupuk organik lainnya, Bokashi memiliki beberapa keunggulan yaitu :
1.Kandungan unsur haranya sangat tinggi
2.Kandungan mikroorganisme yang menguntungkan ( Effective Microorganisms ), juga tinggi
3.Penyerapan oleh tanaman lebih cepat, karena pupuk dibuat melalui proses fermentasi
4.Proses pembuatannya relatif cepat. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 4-7 hari
Bahan baku yang dibutuhkan antara lain : jerami padi, dedak, merang, sekam, limbah rumah tangga, sampah organik dan lain – lain. Semakin banyak jenis bahan organik yang digunakan, maka semakin banyak pula kandungan unsur hara dan mikroorganismenya.
Proses pembuatannya adalah sebgai berikut :
1.Siapkan lebih dulu larutan EM yang terdiri dari EM-4 dan Molas yang terlarut dalam air dengan konsentrasi 1-10 cc / liter air
2.Siapkan bahan baku dengan komposisi terdiri dari, 80 % bahan organik ; 10 % pupuk kandang dan 10 % dedak / bekatul
3.Siram perlahan dan merata larutan EM-4 ke seluruh campuran tersebut sampai kandungan airnya 30 % ( bila campuran/adonan dikepal dan air tidak keluar dan bila dilepas kembali adonanan akan megar )
4.Adonan digundukkan di atas ubin kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari
5.Suhu diperiksa setiap hari. Suhu adonan harus terjaga tetap berkisar antara 40 – 50 derajat Celcius. Jika suhu lebih dari 50 derajat Celcius, bukalah penutupnya dan gundukan dibalik-balik agar suhu kembali turun mendekati 40 – 50 derajat Celcius. Pada suhu tinggi Bokashi menjadi rusak karena proses pembusukan. Periksa suhu setiap 5 jam sekali.
6.Proses fermentasi selesai setelah 4 – 7 hari, dan Bokashi siap digunakan sebagai pupuk organik
Friday, July 16, 2010
Membuat Pestisida Organik Effective Microorganisms-5 ( EM-5)
Dengan adanya produk Effective Microorganisms-4 ( EM-4) yang beredar di pasaran, masyarakat, khususnya petani dapat lebih mudah untuk melakukan usaha taninya dengan cara organik, lebih sehat, lebih murah dan berkelanjutan.
Pestisida kimia biasanya cenderung digunakan secara berlebihan sehingga dapat mematikan jasad-jasad renik atau mikroorganisme yang menguntungkan di dalam tanah. Dengan mengembangkan produk EM-4 menjadi EM-5, bisa diperoleh pestisida dengan cara yang mudah.
Larutan EM-5 terdiri dari bahan - bahan sebagi berikut :
1. Molasse 100 cc
2. EM-4 100 cc
3. Cuka makan 100 cc
4. Alkohol 40% 100 cc
5. Air cucian beras 1000 cc
Kelima bahan tersebut diatas, dicampurkan ke dalam suatu wadah yang mempunyai tutup. Larutan ini dikocok setiap pagi dan sore. Kemudian tutup wadah dibuka untuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi, setelah kurang dari 15 hari pengocokan dihentikan ( selama tidak ada gas yang terbentuk ). Biarkan dan simpan selama 7 hari dan setelah itu siap untuk digunakan.
EM-5 diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke seluruh tanaman dengan konsentrasi 5-10 cc / liter air. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, menjelang matahari terbenam. Untuk kebutuhan bahan dengan jumlah yang lebih besar, bahan - bahan disiapkan secara proporsional dengan komposisi yang sama dengan di atas.
Pestisida kimia biasanya cenderung digunakan secara berlebihan sehingga dapat mematikan jasad-jasad renik atau mikroorganisme yang menguntungkan di dalam tanah. Dengan mengembangkan produk EM-4 menjadi EM-5, bisa diperoleh pestisida dengan cara yang mudah.
Larutan EM-5 terdiri dari bahan - bahan sebagi berikut :
1. Molasse 100 cc
2. EM-4 100 cc
3. Cuka makan 100 cc
4. Alkohol 40% 100 cc
5. Air cucian beras 1000 cc
Kelima bahan tersebut diatas, dicampurkan ke dalam suatu wadah yang mempunyai tutup. Larutan ini dikocok setiap pagi dan sore. Kemudian tutup wadah dibuka untuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi, setelah kurang dari 15 hari pengocokan dihentikan ( selama tidak ada gas yang terbentuk ). Biarkan dan simpan selama 7 hari dan setelah itu siap untuk digunakan.
EM-5 diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke seluruh tanaman dengan konsentrasi 5-10 cc / liter air. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, menjelang matahari terbenam. Untuk kebutuhan bahan dengan jumlah yang lebih besar, bahan - bahan disiapkan secara proporsional dengan komposisi yang sama dengan di atas.
Teknologi Effective Microorganisms Dalam Bidang Peternakan
Di bidang peternakan, Teknologi Effective Microorganisms ( EM ) juga menjadi solusi dari berbagai masalah yang selama ini membebani masyarakat peternak, yaitu antara lain : polusi udara, air dan bibit penyakit dari limbah peternakan ; kesulitan mendapatkan pakan ternak yang murah dan mudah pengadaannya; biaya tinggi untuk pengadaan obat-obatan dan stimulan, keinginan masyarakat untuk mendapatkan daging yang berkualitas bagus, empuk dan berserat halus juga kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi produk yang terbebas dari bahan kimia ( obat-obatan maupun stimulan )
Sama seperti dalam usaha tani, dalam sektor usaha peternakan juga digunakan EM-4 yang sudah beredar luas dan cukup dikenal masyarakat.
Pengaruh EM-4 terhadap ternak :
1.Mencegah bau tidak sedap dari kandang dan tempat pembuangan kotoran ternak
2.Mengurangi jumlah lalat dan serangga
3.Mengurangi stres pada ternak
4.Memperbaiki mutu daging ternak
5.Memperbaiki kesuburan ternak
6.Memperbaiki kesehatan ternak
7.Memperbaiki mutu kotoran ternak
Penggunaan EM-4 dengan cara :
1.Menambahkan Bokashi EM ke pakan ternak
2.Mencampurkan EM-4 ke dalam minuman ternak
3.Menyemprotkan larutan EM-4 ke kandang ternak
4.Menaburkan Bokashi EM ke tempat tidyr ternak
5.Memasukkan EM-4 ke dalam tempat pembuangan kotoran ternak
Dalam tulisan ini hanya di sajikan cara menyiapkan Bokashi untuk pakan ternak, dengan catatan bokashi terdiri dari bahan-bahan organik yang bisa dimakan oleh ternak
Bokashi diberikan dengan tujuan memperbaiki jasad renik yang terdapat pada saluran pencernaan ternak, sehingga ternak lebih sehat dan bau kotoran berkurang.
Bahan-bahan yang diperlukan : dedak padi 100 kg; dedak gandum 100 kg atau tepung jagung; molases 200 cc; EM-4 200 cc dan air 20-30 liter
Penambahan air adalah sebanyak yang dibutuhkan untuk membasahi bahan tetapi tidak sampai melimpah keluar.
Cara pembuatan:
Campur dedak padi dan dedak gandum
Larutkan molases dalam air ( 1 : 100 ) ( dalam air hangat lebih mudah larut )
Tambahkan EM-4 kedalam larutan molas tersebut
Tuang campuran EM-4 ke dalam bahan, aduk merata dan tetap perhatikan kandungan airnya. Kadar air sekitar 30-40%, dapat diuji dengan cara meremas sebanyak segenggam, jika dilepas adonan akan tetap menyatu dan bila disentuh akan jadi remah kembali
Masukkan adonan dalam kantong kedap udara ( kantong kertas atau plastik ) kemudian masukkan lagi ke dalam plastik hitam agar tidak terjadi peredaran udara lalu tutup rapat untuk mendapatkan kondisi anaerob, simpan di tempat tidak terkena sinar matahari langsung
Lama jangka waktu fermentasi 3-4 hari di daerah tropis, di daerah sub tropis, pada musim panas 3-4 hari , pada musim dingin lebih 7-8 hari. Pada musim dingin, tempatkan wadah adonan di tempat hangat untuk mempercepat fermentasi. Bila kondisi anaerob tidak dipertahankan maka suhu akan naik Suhu yang ideal adalah 35-45 derajat Celcius, oleh sebab itu perlu diukur dengan termometer, bila sudah melebihi 50 derajat Celcius, bokashi diaduk-aduk sehingga udara masuk kemudian masukkan kembali kedalam wadah untuk mempertahankan kondisi anaerob. Bokashi yang berbau harum berarti proses fermentasi berhasil tapi bila berbau busuk, bokashi gagal atau belum jadi
Bokashi agar segera digunakan. Bila akan disimpan, sebarkan dulu datas lantai semen dalam ruanagan teduh kemudian diangin-anginkan sampai kering dan disimpan dalam kantong plastik
sumber : http://id.shvoong.com
Sama seperti dalam usaha tani, dalam sektor usaha peternakan juga digunakan EM-4 yang sudah beredar luas dan cukup dikenal masyarakat.
Pengaruh EM-4 terhadap ternak :
1.Mencegah bau tidak sedap dari kandang dan tempat pembuangan kotoran ternak
2.Mengurangi jumlah lalat dan serangga
3.Mengurangi stres pada ternak
4.Memperbaiki mutu daging ternak
5.Memperbaiki kesuburan ternak
6.Memperbaiki kesehatan ternak
7.Memperbaiki mutu kotoran ternak
Penggunaan EM-4 dengan cara :
1.Menambahkan Bokashi EM ke pakan ternak
2.Mencampurkan EM-4 ke dalam minuman ternak
3.Menyemprotkan larutan EM-4 ke kandang ternak
4.Menaburkan Bokashi EM ke tempat tidyr ternak
5.Memasukkan EM-4 ke dalam tempat pembuangan kotoran ternak
Dalam tulisan ini hanya di sajikan cara menyiapkan Bokashi untuk pakan ternak, dengan catatan bokashi terdiri dari bahan-bahan organik yang bisa dimakan oleh ternak
Bokashi diberikan dengan tujuan memperbaiki jasad renik yang terdapat pada saluran pencernaan ternak, sehingga ternak lebih sehat dan bau kotoran berkurang.
Bahan-bahan yang diperlukan : dedak padi 100 kg; dedak gandum 100 kg atau tepung jagung; molases 200 cc; EM-4 200 cc dan air 20-30 liter
Penambahan air adalah sebanyak yang dibutuhkan untuk membasahi bahan tetapi tidak sampai melimpah keluar.
Cara pembuatan:
Campur dedak padi dan dedak gandum
Larutkan molases dalam air ( 1 : 100 ) ( dalam air hangat lebih mudah larut )
Tambahkan EM-4 kedalam larutan molas tersebut
Tuang campuran EM-4 ke dalam bahan, aduk merata dan tetap perhatikan kandungan airnya. Kadar air sekitar 30-40%, dapat diuji dengan cara meremas sebanyak segenggam, jika dilepas adonan akan tetap menyatu dan bila disentuh akan jadi remah kembali
Masukkan adonan dalam kantong kedap udara ( kantong kertas atau plastik ) kemudian masukkan lagi ke dalam plastik hitam agar tidak terjadi peredaran udara lalu tutup rapat untuk mendapatkan kondisi anaerob, simpan di tempat tidak terkena sinar matahari langsung
Lama jangka waktu fermentasi 3-4 hari di daerah tropis, di daerah sub tropis, pada musim panas 3-4 hari , pada musim dingin lebih 7-8 hari. Pada musim dingin, tempatkan wadah adonan di tempat hangat untuk mempercepat fermentasi. Bila kondisi anaerob tidak dipertahankan maka suhu akan naik Suhu yang ideal adalah 35-45 derajat Celcius, oleh sebab itu perlu diukur dengan termometer, bila sudah melebihi 50 derajat Celcius, bokashi diaduk-aduk sehingga udara masuk kemudian masukkan kembali kedalam wadah untuk mempertahankan kondisi anaerob. Bokashi yang berbau harum berarti proses fermentasi berhasil tapi bila berbau busuk, bokashi gagal atau belum jadi
Bokashi agar segera digunakan. Bila akan disimpan, sebarkan dulu datas lantai semen dalam ruanagan teduh kemudian diangin-anginkan sampai kering dan disimpan dalam kantong plastik
sumber : http://id.shvoong.com
Pertanian Terpadu Dengan Teknologi Effective Microorganisms ( EM )
Pertanian terpadu merupakan suatu metode pertanian dimana lahan yang tersedia dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan produk pertanian yang beragam dengan kualitas tinggi.
Metode ini biasanya dilakukan dengan cara konvensional, yaitu limbah komoditas pertanian tertentu didaur ulang secara maksimal sebagai sumber masukan energi untuk melakukan aktivitas pertanian lainnya.
Dalam prosesnya, masih banyak energi yang dimasukkan dari luar untuk menunjang terlaksananya seluruh aktivitas untuk menghasilkan produk pertanian, sehingga dapat disimpulkan masing-masing unit pertanian belum sepenuhnya terpadu.
Siklus dalam pertanian terpadu secara konvensional ada yang terputus, dimana pakan ternak masih berasal dari luar sistem dan limbah yang berasal dari ternak tidak termanfaatkan sebagai sumber energi untuk proses selanjutnya. Limbah organik tersebut banyak yang terbuang, mengalami proses pembusukan yang akhirnya menjadi pupuk organik.
Pada pertanian terpadu dengan menggunakan Teknologi EM, limbah organik yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman di fermentasi menjadi pupuk organik ( Bokashi ) dalam waktu singkat. Kotoran ayam dan kambing dapat difermentasi menjadi pakan ternak ( bokashi pakan ternak ) untuk makanan ayam, babi dan bebek Kotoran ayam masih mengandung protein 14 %, sedangkan kotoran kambing mengandung protein 12 % dan 80% serat kasar dari hijauan pakan ternak.
Dengan menggunakan Teknologi EM, masukan energi dari luar sistem pertanian dapat diperkecil atau ditiadakan sama sekali, karena melalui proses fermentasi kandungan nutrisi pakan ternak menjadi lebih tinggi.
Model pertanian terpadu dengan Teknologi EM ini sudah diterapkan di Pusdiklat Teknologi EM yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, Bali.
Berdasarkan hasil percobaan, pemberian bokashi pakan ternak ( fermentasi bahan organik dari kotoran ayam dan kambing ) pada ayam petelur, biaya pakan ternak dapat ditekan 53.6 % dan meningkatkan keuntungan 47.6 % terhadap pemberian pakan ternak konvensional.
Pemberian bokashi pakan ternak pada babi dapat menekan biaya pakan sebesar 69.2 % dengan meningkatkan keuntungan 178.4 % terhadap pemberian pakan konvensional.
Penelitian terhadap kualitas telur ayam, tidak ditemukan perbedaan yang berarti pada kandungan protein dan vitamin A antara perlakuan bokashi pakan ternak dengan pakan ternak konvensional. Dan kandungan kolesterol lebih sedikit daripada perlakuan pakan ternak konvensional.
Air limbah pertanian digunakan untuk mengairi dan memupuk lahan pertanian lainnya. Dimana lahan pertanian tersebut ditanami berbagai jenis sayur, kelapa, pisang, cengkeh, rambutan, kopi dan padi. Hasil pengamatan menunjukkan tanaman – tanaman tersebut, yang tidak dipupuk bahan kimia mengalami peningkatan produksi. Produksi padi meningkat 60 % dibandingkan metode konvensional.
Di dalam kolam penampungan air limbah dibudidayakan eceng gondok yang berguna sebagai hijauan pakan ternak ayam dan babi.
Pertanian terpadu dengan Teknolgi EM dapat menjadi solusi di tengah sulitnya upaya petani menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan, yang selama ini sangat mengandalkan masukan energi dari luar seperti pakan ternak, obat-obatan, pestisida dan pupuk kimia.
Pertanian terpadu konvensional juga kurang memuaskan, karena begitu banyaknya energi yang terbuang dari proses pembusukan , berupa panas dan gas.
Teknologi EM dalam pertanian terpadu diharapkan juga dapat diterapkan di tengah-tengah masyarakat khususnya petani sehingga perbaikan ekonomi dan kondisi lingkungan bersih dan sehat dapat tercapai.
sumber : http://id.shvoong.com
Metode ini biasanya dilakukan dengan cara konvensional, yaitu limbah komoditas pertanian tertentu didaur ulang secara maksimal sebagai sumber masukan energi untuk melakukan aktivitas pertanian lainnya.
Dalam prosesnya, masih banyak energi yang dimasukkan dari luar untuk menunjang terlaksananya seluruh aktivitas untuk menghasilkan produk pertanian, sehingga dapat disimpulkan masing-masing unit pertanian belum sepenuhnya terpadu.
Siklus dalam pertanian terpadu secara konvensional ada yang terputus, dimana pakan ternak masih berasal dari luar sistem dan limbah yang berasal dari ternak tidak termanfaatkan sebagai sumber energi untuk proses selanjutnya. Limbah organik tersebut banyak yang terbuang, mengalami proses pembusukan yang akhirnya menjadi pupuk organik.
Pada pertanian terpadu dengan menggunakan Teknologi EM, limbah organik yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman di fermentasi menjadi pupuk organik ( Bokashi ) dalam waktu singkat. Kotoran ayam dan kambing dapat difermentasi menjadi pakan ternak ( bokashi pakan ternak ) untuk makanan ayam, babi dan bebek Kotoran ayam masih mengandung protein 14 %, sedangkan kotoran kambing mengandung protein 12 % dan 80% serat kasar dari hijauan pakan ternak.
Dengan menggunakan Teknologi EM, masukan energi dari luar sistem pertanian dapat diperkecil atau ditiadakan sama sekali, karena melalui proses fermentasi kandungan nutrisi pakan ternak menjadi lebih tinggi.
Model pertanian terpadu dengan Teknologi EM ini sudah diterapkan di Pusdiklat Teknologi EM yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, Bali.
Berdasarkan hasil percobaan, pemberian bokashi pakan ternak ( fermentasi bahan organik dari kotoran ayam dan kambing ) pada ayam petelur, biaya pakan ternak dapat ditekan 53.6 % dan meningkatkan keuntungan 47.6 % terhadap pemberian pakan ternak konvensional.
Pemberian bokashi pakan ternak pada babi dapat menekan biaya pakan sebesar 69.2 % dengan meningkatkan keuntungan 178.4 % terhadap pemberian pakan konvensional.
Penelitian terhadap kualitas telur ayam, tidak ditemukan perbedaan yang berarti pada kandungan protein dan vitamin A antara perlakuan bokashi pakan ternak dengan pakan ternak konvensional. Dan kandungan kolesterol lebih sedikit daripada perlakuan pakan ternak konvensional.
Air limbah pertanian digunakan untuk mengairi dan memupuk lahan pertanian lainnya. Dimana lahan pertanian tersebut ditanami berbagai jenis sayur, kelapa, pisang, cengkeh, rambutan, kopi dan padi. Hasil pengamatan menunjukkan tanaman – tanaman tersebut, yang tidak dipupuk bahan kimia mengalami peningkatan produksi. Produksi padi meningkat 60 % dibandingkan metode konvensional.
Di dalam kolam penampungan air limbah dibudidayakan eceng gondok yang berguna sebagai hijauan pakan ternak ayam dan babi.
Pertanian terpadu dengan Teknolgi EM dapat menjadi solusi di tengah sulitnya upaya petani menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan, yang selama ini sangat mengandalkan masukan energi dari luar seperti pakan ternak, obat-obatan, pestisida dan pupuk kimia.
Pertanian terpadu konvensional juga kurang memuaskan, karena begitu banyaknya energi yang terbuang dari proses pembusukan , berupa panas dan gas.
Teknologi EM dalam pertanian terpadu diharapkan juga dapat diterapkan di tengah-tengah masyarakat khususnya petani sehingga perbaikan ekonomi dan kondisi lingkungan bersih dan sehat dapat tercapai.
sumber : http://id.shvoong.com
Daur Ulang Limbah Organik dengan Teknologi Effective Microorganisms
Pencemaran lingkungan perkotaan salah satunya disebabkan oleh limbah organik yang tidak terurai sempurna sehinggga menyebarkan bau busuk ,gas beracun, hama dan penyakit. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan biaya yang tidak sedikit antara lain : biaya pengolahan, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya sarana dan prasarana dan juga biaya untuk tenaga konsultan yang sangat memusingkan bagi pemerintah setempat.
Semakin padat pemukiman suatu tempat, akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan yang berakibat pada semakin tinggi pencemaran lingkungan di tempat itu.
Mengingat presentasi limbah organik yang tinggi dari seluruh sampah yang dihasilkan yaitu kira-kira 70 % dari keseluruhan , maka pada tulisan ini terfokus pada penanganan limbah organik.
Setiap harinya ribuan ton bahan organik yang merupakan bahan pangan yang dikirim ke kota yang berasal dari daerah pertanian untuk dikonsumsi masyarakat kota. Penggunaan bahan organik tersebut menghasilkan limbah berupa, tinja , air kotor, limbah rumah tangga dan limbah kota yang terus ditumpuk di suatu tempat yang biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ). Dengan ini diusulkan suatu teknologi untuk mendaur ulang limbah tersebut. Dalam hal ini teknologi yang diusulkan adalah teknologi effective microoragnisms ( EM ).
Di daerah pertanian, justru terjadi kekurangan bahan organik karena sebagian besar sudah dikirim ke kota, Bahan organik yang tersisa cenderung dimanfatkan sebagai sumber energi untuk dapur, industri rumah batu bata dan industri rumah tangga lainnya.
Di sentra peternakan, limbah organik berupa kotoran ternak diupayakan untuk dijual secepatnya dengan harga murah ke daerah pertanian yang membutuhkan pupuk organik Sedikit sekali nilai tambah yang diperoleh peternak dari limbah tersebut. Semua ini terjadi karena petani dan peternak belum memanfaatkan teknolgi pengolahan limbah tersebut.
Limbah organik berasal dari beberapa sumber yaitu anatara lain : dapur/rumah tangga, pasar, rumah/sakit, perumahan, pertokoan / perkantoran, hotel / restoran, pertanian, peternakan / rumah potong, pengolahan hasil pertanian / peternakan dan sampah kota.
Selama ini metode yang digunakan untuk mengolah aneka limbah oganik tersebut adalah dengan cara membusukkan limbah tersebut untuk mendapatkan kompos. Pada proses ini, akan ada energi organik yang terbuang dalam bentuk panas dan gas ( hidrogen sulfida, amonia merkaptan dan gas beracun lainnya ). Polusi yang terjadi mencakup udara, tanah dan air yang terjadi dari proses pembusukan bahan organik, karena aktifitas dari mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi hewan dan manusia seperti : Salmonella, Escherischia coli dll. Pencemaran secara kimia terjadi karena pelepasan ion negatif dari proses pembusukan yang membentuk gas-gas dan senyawa beracun.
Proses pembusukan organik berlangsung 2 – 3 bulan. Proses ini bisa berlangsung lebih lambat karena penambahan bahan organik secara terus menerus serta tidak adanya peran mikroorganisme fermentasi. Itulah sebabnya mengapa di tempat pembuangan gas busuk secara terus menerus dihasilkan dalam radius 5 km
Cara yang umum digunakan di perkotaan sekarang ini adalah dengan cara menumpuk sampah sampai dengan ketebalan ketebalan tertentu kemudian diurug dengan tanah yang biasa disebut dengan land fill system Cara ini pertama kali dikembangkan oleh Depatemen Kesehatan Amerika Serikat dan sampai sekarang masih dilakukan.
Metode land fill system sampai saat ini masih merupakan cara yang diunggulkan, sekalipun hanya dapat mengurangi bau kurang dari 40 %. Dan masalah ini tidak akan pernah tuntas mengingat bau adalah gas yang bersifat ringan dan segera mengisi ruang.
Penguraian limbah organik melalui proses fermentasi adalah cara yang tepat untuk dapat mengatasi masalah bau, dan masalah-masaah lingkungan seperti polusi udara, air dan tanah . Pada proses ini aroma yang tercium adalah asam manis bau khas fermentasi.
Teknologi fermentsi bahan organik yang diperkenalkan di sini adalah Teknologi Effective Microorganisms ( EM ) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyu Jepang. Teknologi ini mengembangkan 80 jenis mikroorganisme yang bermanfaat untuk memfermentasikan bahan organik serta menggunakan panas dan gas hasil dari proses pembusukan sebagai sumber energi.
Proses fermentasi mulai berlangsung dengan cara yang sederhana, diinokulasikan dengan cara disemprotkan ke bahan organik atau tumpukan sampah tersebut dan disemprotkan Dalam proses ini, pembentukan gas (bau busuk ) dan panas dapat ditekan atau dihilangkan sama sekali.
Manfaat langsung dari proses ini adalah : berkurangnya bau busuk dan panas; berkurangnya hama seperti lalat dan penyakit yang ditimbulkan; tumpukan sampah cepat berkurang, sehingga daya tampung sampah dalm lubang dapat bertambah 30%; lapisan tanah urugan berkurang karena masalah bau teratasi; masalah lingkungan dan kesehatan pekerja dan pemulung dapat teratasi.
Fermentasi bahan organik terjadi bila bahan EM dinokulasikan ke dalam larutan gula dengan dosis 0.1-1% ke dalam tumpukan sampah setiap minggu sekali, dilakukan dengan cara menyemprot dengan mesin atau pompa.
Untuk memfermentasikan 1 ton limbah organik, diperlukan 1 liter EM dan 1 liter gula atau molas. Agar lebih hemat, dapat difermentasikan lebih dulu larutan molas dengan cara mencampurkan 1 liter EM dan 1 liter molas ke dalam 20 liter air kemudian tutup rapat dalam tangki selama 1 minggu. Larutan ini biasanya disebut Fermentasi Molas ( FM ). Fermentasi Molas dapat disemprotkan ke dalam tumpukan sampah dengan kelarutan 0.1 %
Idealnya pada tahap awal yaitu di tingkat rumah tangga, sudah dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik, dengan demikian proses fermentasi di Tempat Pembuangan Akhir lebih mudah dan proses berjalan sempurna. Untuk membudayakan kebiasaan masyarakat memilah-milah limbah organik ini, tentunya perlu proses panjang disamping itu perlu dipertegas lagi dengan peraturan dari pemerintah.
sumber : http://id.shvoong.com/
Semakin padat pemukiman suatu tempat, akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan yang berakibat pada semakin tinggi pencemaran lingkungan di tempat itu.
Mengingat presentasi limbah organik yang tinggi dari seluruh sampah yang dihasilkan yaitu kira-kira 70 % dari keseluruhan , maka pada tulisan ini terfokus pada penanganan limbah organik.
Setiap harinya ribuan ton bahan organik yang merupakan bahan pangan yang dikirim ke kota yang berasal dari daerah pertanian untuk dikonsumsi masyarakat kota. Penggunaan bahan organik tersebut menghasilkan limbah berupa, tinja , air kotor, limbah rumah tangga dan limbah kota yang terus ditumpuk di suatu tempat yang biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ). Dengan ini diusulkan suatu teknologi untuk mendaur ulang limbah tersebut. Dalam hal ini teknologi yang diusulkan adalah teknologi effective microoragnisms ( EM ).
Di daerah pertanian, justru terjadi kekurangan bahan organik karena sebagian besar sudah dikirim ke kota, Bahan organik yang tersisa cenderung dimanfatkan sebagai sumber energi untuk dapur, industri rumah batu bata dan industri rumah tangga lainnya.
Di sentra peternakan, limbah organik berupa kotoran ternak diupayakan untuk dijual secepatnya dengan harga murah ke daerah pertanian yang membutuhkan pupuk organik Sedikit sekali nilai tambah yang diperoleh peternak dari limbah tersebut. Semua ini terjadi karena petani dan peternak belum memanfaatkan teknolgi pengolahan limbah tersebut.
Limbah organik berasal dari beberapa sumber yaitu anatara lain : dapur/rumah tangga, pasar, rumah/sakit, perumahan, pertokoan / perkantoran, hotel / restoran, pertanian, peternakan / rumah potong, pengolahan hasil pertanian / peternakan dan sampah kota.
Selama ini metode yang digunakan untuk mengolah aneka limbah oganik tersebut adalah dengan cara membusukkan limbah tersebut untuk mendapatkan kompos. Pada proses ini, akan ada energi organik yang terbuang dalam bentuk panas dan gas ( hidrogen sulfida, amonia merkaptan dan gas beracun lainnya ). Polusi yang terjadi mencakup udara, tanah dan air yang terjadi dari proses pembusukan bahan organik, karena aktifitas dari mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi hewan dan manusia seperti : Salmonella, Escherischia coli dll. Pencemaran secara kimia terjadi karena pelepasan ion negatif dari proses pembusukan yang membentuk gas-gas dan senyawa beracun.
Proses pembusukan organik berlangsung 2 – 3 bulan. Proses ini bisa berlangsung lebih lambat karena penambahan bahan organik secara terus menerus serta tidak adanya peran mikroorganisme fermentasi. Itulah sebabnya mengapa di tempat pembuangan gas busuk secara terus menerus dihasilkan dalam radius 5 km
Cara yang umum digunakan di perkotaan sekarang ini adalah dengan cara menumpuk sampah sampai dengan ketebalan ketebalan tertentu kemudian diurug dengan tanah yang biasa disebut dengan land fill system Cara ini pertama kali dikembangkan oleh Depatemen Kesehatan Amerika Serikat dan sampai sekarang masih dilakukan.
Metode land fill system sampai saat ini masih merupakan cara yang diunggulkan, sekalipun hanya dapat mengurangi bau kurang dari 40 %. Dan masalah ini tidak akan pernah tuntas mengingat bau adalah gas yang bersifat ringan dan segera mengisi ruang.
Penguraian limbah organik melalui proses fermentasi adalah cara yang tepat untuk dapat mengatasi masalah bau, dan masalah-masaah lingkungan seperti polusi udara, air dan tanah . Pada proses ini aroma yang tercium adalah asam manis bau khas fermentasi.
Teknologi fermentsi bahan organik yang diperkenalkan di sini adalah Teknologi Effective Microorganisms ( EM ) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyu Jepang. Teknologi ini mengembangkan 80 jenis mikroorganisme yang bermanfaat untuk memfermentasikan bahan organik serta menggunakan panas dan gas hasil dari proses pembusukan sebagai sumber energi.
Proses fermentasi mulai berlangsung dengan cara yang sederhana, diinokulasikan dengan cara disemprotkan ke bahan organik atau tumpukan sampah tersebut dan disemprotkan Dalam proses ini, pembentukan gas (bau busuk ) dan panas dapat ditekan atau dihilangkan sama sekali.
Manfaat langsung dari proses ini adalah : berkurangnya bau busuk dan panas; berkurangnya hama seperti lalat dan penyakit yang ditimbulkan; tumpukan sampah cepat berkurang, sehingga daya tampung sampah dalm lubang dapat bertambah 30%; lapisan tanah urugan berkurang karena masalah bau teratasi; masalah lingkungan dan kesehatan pekerja dan pemulung dapat teratasi.
Fermentasi bahan organik terjadi bila bahan EM dinokulasikan ke dalam larutan gula dengan dosis 0.1-1% ke dalam tumpukan sampah setiap minggu sekali, dilakukan dengan cara menyemprot dengan mesin atau pompa.
Untuk memfermentasikan 1 ton limbah organik, diperlukan 1 liter EM dan 1 liter gula atau molas. Agar lebih hemat, dapat difermentasikan lebih dulu larutan molas dengan cara mencampurkan 1 liter EM dan 1 liter molas ke dalam 20 liter air kemudian tutup rapat dalam tangki selama 1 minggu. Larutan ini biasanya disebut Fermentasi Molas ( FM ). Fermentasi Molas dapat disemprotkan ke dalam tumpukan sampah dengan kelarutan 0.1 %
Idealnya pada tahap awal yaitu di tingkat rumah tangga, sudah dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik, dengan demikian proses fermentasi di Tempat Pembuangan Akhir lebih mudah dan proses berjalan sempurna. Untuk membudayakan kebiasaan masyarakat memilah-milah limbah organik ini, tentunya perlu proses panjang disamping itu perlu dipertegas lagi dengan peraturan dari pemerintah.
sumber : http://id.shvoong.com/
Teruo Higa Penemu Teknologi Effective Microorganisms
Seiring dengan bergulirnya waktu, masyarakat semakin sadar pentingnya produk-produk alami yang menjadi kebutuhan hidup sehari-hari. Produk-produk alami/organik dalam bentuk pangan maupun energi semakin dibutuhkan manusia di tengah-tengah lingkungan yang semakin tercemar oleh berbagai macam polutan disamping harga bahan bakar minyak juga semakin tinggi.
Saat ini masyarakat menaruh minat besar terhadap bahan pangan organik, karena dalam proses produksinya, bahan tersebut terbebas dari bahan kimia berbahaya. Untuk dapat memproduksi bahan pangan organik, mutlak harus menggunakan bahan alami sejak dari tahap awal suatu proses produksi. Semua bahan pangan berasal dari tanah, sehingga tanah harus bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya. Dalam proses bahan produksi bahan pangan organik, diperlukan pupuk organik dan pestisida organik yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh seorang ilmuwan asal Jepang bernama Teuro Higa.
Teuro Higa melakukan terobosan di era pertanian modern dengan mengembangkan mikroorganisme yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman.
Teuro Higa lahir pada tanggal 28 Desember 1941 di Okinawa yang berada di Kepulauan Ryukyu di bagian selatan Jepang. Dia memulai pendidikan tinggi di Universitas Ryukyu Jurusan Pertanian, dan dengan cemerlang dia melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat Doktor dengan spesialisasi pada penelitian pertanian ( agricultural research ). Program Doktor diselesaikan dengan baik dan menyandang gelar PhD.
Pada tahun 1970 di universitas yang sama, Teuro Higa ditunjuk sebagai dosen. Karir Higa terus menanjak, dia meraih posisi sebagai asisten professor di tahun 1972. Sumbangsih Higa dalam dunia penelitian pertanian organik, menghantarkan dia mendapatkan gelar Professor Hortikultura.
Melalui salah satu penelitiannya, Higa menemukan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan campuran berbagai mikroorganisme yang umumnya terdiri dari bakteri asam laktat ( lactic acid bacteria ), purple bacteria dan ragi ( yeast ). Higa menamakan metodenya dengan teknologi effective microorganisms ( EM ) sekaligus menjadi hak paten atas penemuannya itu.
Dalam penelitiannya, Higa menyatakan ada sekitar 80 mikroorganisms yang bermanfaat, dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Di bidang pertanian mikroorganisme ini terbukti dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan hasil panen dan mampu mengendalikan serangan hama dan penyakit pada tanaman.
Di bidang peternakan, EM digunakan untuk makanan ternak, pengomposan dan meningkatkan kesehatan ternak.
Masyarakat pada umumnya menggunakan EM untuk pembuatan kompos, jenis EM yang digunakan adalah EM1, Bokashi. Setidaknya ada ada 15 jenis EM yang memiliki fungsi yang berbeda. Antara lain EM1, EM1 Bokashi, EM2, EM4, EM5 dan Activated EM ( AEM )
Teruo Higa terus aktif memperkenalkan EM pada masyarakat dunia. Tercatat 90 negara secara aktif memanfaatkan teknologi EM, termasuk sektor swasta dan pengusaha.
Indonesia juga mampu memanfaatkan teknologi EM dengan cara yang unik yaitu dengan mengintegrasikan aspek lingkungan dengan pariwisata. Sebagian besar penduduk Bali menggunakan EM dalam produksi tanaman pangan, buah-buahan dan ternak. Bahkan sejumlah hotel di Bali menggunakan EM dalam pengelolaan air. Kondisi ini menyebabkan Bali dinobatkan sebagai pulau percontohan untuk teknologi EM.
Perkembangan ini menyebabkan Teuro Higa dipercaya untuk memgang beberapa jabatan penting anatara lain, Ketua Executive Comitee for International Spreading of Nature Farming, presiden Asia Pasific Natural Agriculture Network dan beberapa jabatan lain.
Higa juga menulis beberapa buku dalam rangka menyebarkan teknologi EM ke seluruh dunia. Salah satu bukunya yang terkenal yaitu : "Use of Microorganisms in Agriculture and Their Positive Effects on Environmental Safety" (1990) dan "An Earth Saving Revolution" (1993)
Pada sekali kesempatan di konferensi di Jerman, EM Festa & Conference, tanggal 9-11 September 2006 Teuro Higa berkata , "Keseharian aktivitas manusia telah menyebabkan lingkungan tercemar dan ekspansi ekonomi telah membuat lingkungan menderita. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk tanggap terhadap isu lingkungan dan melakukan sesuatu untuk menciptakan lingkungan yang bersih "
Saat ini masyarakat menaruh minat besar terhadap bahan pangan organik, karena dalam proses produksinya, bahan tersebut terbebas dari bahan kimia berbahaya. Untuk dapat memproduksi bahan pangan organik, mutlak harus menggunakan bahan alami sejak dari tahap awal suatu proses produksi. Semua bahan pangan berasal dari tanah, sehingga tanah harus bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya. Dalam proses bahan produksi bahan pangan organik, diperlukan pupuk organik dan pestisida organik yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh seorang ilmuwan asal Jepang bernama Teuro Higa.
Teuro Higa melakukan terobosan di era pertanian modern dengan mengembangkan mikroorganisme yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman.
Teuro Higa lahir pada tanggal 28 Desember 1941 di Okinawa yang berada di Kepulauan Ryukyu di bagian selatan Jepang. Dia memulai pendidikan tinggi di Universitas Ryukyu Jurusan Pertanian, dan dengan cemerlang dia melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat Doktor dengan spesialisasi pada penelitian pertanian ( agricultural research ). Program Doktor diselesaikan dengan baik dan menyandang gelar PhD.
Pada tahun 1970 di universitas yang sama, Teuro Higa ditunjuk sebagai dosen. Karir Higa terus menanjak, dia meraih posisi sebagai asisten professor di tahun 1972. Sumbangsih Higa dalam dunia penelitian pertanian organik, menghantarkan dia mendapatkan gelar Professor Hortikultura.
Melalui salah satu penelitiannya, Higa menemukan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan campuran berbagai mikroorganisme yang umumnya terdiri dari bakteri asam laktat ( lactic acid bacteria ), purple bacteria dan ragi ( yeast ). Higa menamakan metodenya dengan teknologi effective microorganisms ( EM ) sekaligus menjadi hak paten atas penemuannya itu.
Dalam penelitiannya, Higa menyatakan ada sekitar 80 mikroorganisms yang bermanfaat, dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Di bidang pertanian mikroorganisme ini terbukti dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan hasil panen dan mampu mengendalikan serangan hama dan penyakit pada tanaman.
Di bidang peternakan, EM digunakan untuk makanan ternak, pengomposan dan meningkatkan kesehatan ternak.
Masyarakat pada umumnya menggunakan EM untuk pembuatan kompos, jenis EM yang digunakan adalah EM1, Bokashi. Setidaknya ada ada 15 jenis EM yang memiliki fungsi yang berbeda. Antara lain EM1, EM1 Bokashi, EM2, EM4, EM5 dan Activated EM ( AEM )
Teruo Higa terus aktif memperkenalkan EM pada masyarakat dunia. Tercatat 90 negara secara aktif memanfaatkan teknologi EM, termasuk sektor swasta dan pengusaha.
Indonesia juga mampu memanfaatkan teknologi EM dengan cara yang unik yaitu dengan mengintegrasikan aspek lingkungan dengan pariwisata. Sebagian besar penduduk Bali menggunakan EM dalam produksi tanaman pangan, buah-buahan dan ternak. Bahkan sejumlah hotel di Bali menggunakan EM dalam pengelolaan air. Kondisi ini menyebabkan Bali dinobatkan sebagai pulau percontohan untuk teknologi EM.
Perkembangan ini menyebabkan Teuro Higa dipercaya untuk memgang beberapa jabatan penting anatara lain, Ketua Executive Comitee for International Spreading of Nature Farming, presiden Asia Pasific Natural Agriculture Network dan beberapa jabatan lain.
Higa juga menulis beberapa buku dalam rangka menyebarkan teknologi EM ke seluruh dunia. Salah satu bukunya yang terkenal yaitu : "Use of Microorganisms in Agriculture and Their Positive Effects on Environmental Safety" (1990) dan "An Earth Saving Revolution" (1993)
Pada sekali kesempatan di konferensi di Jerman, EM Festa & Conference, tanggal 9-11 September 2006 Teuro Higa berkata , "Keseharian aktivitas manusia telah menyebabkan lingkungan tercemar dan ekspansi ekonomi telah membuat lingkungan menderita. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk tanggap terhadap isu lingkungan dan melakukan sesuatu untuk menciptakan lingkungan yang bersih "
Subscribe to:
Posts (Atom)